Rumah Dara review, Prolonged Sequence of Her


SINOPSIS

Adjie dan Astrid, pasangan suami istri yang akan diberkati kehadiran anak pertama, pergi bersama 3 temannya ke Bandung pada suatu malam. Perjalanan ini merupakan usaha terakhir Adjie untuk berpamitan dengan adiknya, Ladya. Kedua kakak-beradik ini sudah tak akur lagi, dan besok Adjie harus berangkat ke Australia untuk memulai hidup baru

Pertemuan mereka tidak berjalan mulus pada mulanya. Ladya yang seorang pemberontak menyalahkan Adjie atas tragedi di masa lalu. Tetapi atas bujukan Astrid, Ladya mengalah dan dengan sungkan ikut mengantar ke bandara

Perjalanan terhenti ketika seorang perempuan cantik menghampiri mereka dengan cemas dan lingkung. “Nama saya Maya. Saya baru saja dirampok,” ujarnya. Berniat menolong, mereka pun mengantar perempuan ini pulang

Sesampainya di rumah Maya, mereka diperkenalkan kepada seorang perempuan anggun dan misterius bernama Dara. Disinilah niat tulus dan maksud baik menjadi awal bencana

Siapakah Dara sebenarnya? Apa yang diinginkan oleh sosok-sosok lain penghuni rumah tersebut? Adakah harapan untuk selamat bila keluar dari rumah itu saja tampak mustahil?

Malam ini, semuanya tak akan baik-baik saja...


FOR ME RATING

Rated R for Strong Horror Violence Throughout, Terror, Gore, and Some Mature Content also Some Language.


REVIEW

Ekspetasi anda untuk film ini bisa dibilang cukup berlebihan, jadi boleh saja anda simpan uang Rp 20.000 anda itu untuk membeli paket makanan enak di sebuah rumah makan siap saji dibawah...

Kok begitu ? Memangnya film itu sedemikian jeleknya ? Tidak, anda akan menikmatinya. Anda akan menikmatinya sebagai seorang addicted moviegoers, tapi bagi saya yang addicted slashergoers, jujur saja, saya pernah buat plot semacam ini....

Film berdurasi 95 menit ini memang menarik, walaupun plot awal yang disajikan kepada penonton sangat umum, tapi perlahan akan menemukan sebuah perbedaan antara film ini dengan film2 bergenre sama yang bisa anda lihat secara online streaming di banyak situs. Apabila film slasher luar cenderung mengumbar konten dewasa sebagai foreplay, film ini lebih memberikan characters introducing sebagai foreplay. Dan tidak bisa dipungkiri, bahkan oleh saya sendiri, bahwa foreplay film ini sangat kurang, apalagi saat dari tempat kerja Ladya ke adegan munculnya Maya. Perkenalan karakter disajikan justru secara ensamble, tenang saja buat orang yang rada budeg sampai-sampai tidak hapal nama karakternya, nama karakternya akan diulang secara periodik berkali-kali.

Lalu, kita dikenalkan kepada lead actrees film ini, Dara ! Dara yang mempunyai 3 anak ini diperankan oleh Shareefa Daanish dengan taste berbeda dengan apa yang disajikan The Mo Brothers di film pendeknya. Apabila di film pendeknya digambarkan Dara sebagai sosok single yang mengenali citizen taste yang tinggi, maka disini anda akan melihat Dara dengan versi yang lebih old. Anda akan mendengar dialog yang paling saya ingat, yang lebih membuat saya lebih terkesan dengan Dara. Bukan....Bukan dialog cheesy "ENAK KANNN ?!", tetapi justru dialog yang muncul saat Dara memperkenalkan dirinya dan mengajak makan keenam sahabat itu. "Tidak Apa. Nanti dibilang saya jelek ramah." What ?! Dalam film rilisan 2010 ini mendengar kalimat JELEK RAMAH ! Benar-benar dialog yang paling saya ingat, kalimat itu benar-benar menggantikan posisi kalimat ENAK KAN di benak saya. Kalimat itu terus saja terngiang-ngiang bahkan saat Dara mengatakan kata Enak Kan tersebut.

Kemudian pada aktingnya. Heran rasanya, mengetahui Shareefa Daanish yang komikal bisa membuat facing seperti itu. Sorot matanya yang padahal cuma sekali di CU oleh kamera, (saat si anu mati) dan pada saat itu mimiknya benar-benar menyeramkan, apa mungkin karena make up yang bagus atau pengarahannya , saya tidak tahu, yang jelas Dara memang karakter yang diciptakan oleh kreator. Bukan jiplakan dari film-film lain, yang seingat saya cuma ada dalam film-film hollywood. Lalu akting Imelda Therinne yang perubahan karakternya perlahan-lahan berubah seiring tensi film. Di awal film, walaupun anda sudah tahu kalau dia jahat, tetapi pembawaanya tidak mencerminkan sosok evil sejak awal. Apalagi, saat Maya melukai Alam, lihat deh sosok matanya itu ! Sosok dari para hero kita banyak yang aktingnya benar-benar tidak ngeh sama slasher rules, tetapi mereka sudah dalam performa yang meyakinkan, terutama pada Sigi Wimala sebagai Astrid yang harus kehilangan bayinya (bukan spoiler loh...). Yang paling kurang aktingnya cuma Ruli Lubis sebagai Arman (please ya, tambahin beberapa facing yang ngeri kayak Dara deh).

Sinematografi memang sangat simetris dengan editing, dan dalam beberapa adegan di film ini ada yang mengganggu, seperti saat perkelahian Alam dan Maya, perkelahian yang pertamanya cukup tegang jadi funny karena selama pertarungan tersebut, beberapa detik dipangkas dari perkelahian sehingga tampak seperti sitkom. Mungkin maunya lucu ? Namun secara keseluruhan, angle yang diambil oleh Roni Arnold lebih menyenangkan selangkah daripada angle film slasher biasa. Walaupun sering mengambil sudut kamera biasa, saat-saat akhir dimana Ladya berjalan melewati genangan darah cukup membuat praised, karena scene itu dan adegan ending cukup membuat tegang. Musik dan desainnya sudah cukup bagus, salut buat lagu Cinta Matiku !!! Lagu itu bener-bener kocak akhirnya, yang mana lirik tersebut diedit dalam website-nya. Nanti ya, liriknya ! Make up nya sudah bagus sich, serasa Nicotero & Berger gitu deh, cuma gara-gara LSF, gak sempet liat deh kepala Alam yang kepotong. Nice try, dude...

Akting cukup mantap, musik, sinematografi, editing, desain sudah oks, terus yang bikin jelek apa donggg ????? Yang bikin jelek itu plotnya, PLOT. Entah kenapa, para pembuat slasher seringkali tidak memberikan pengetahuan kepada karakternya apabila harus membunuh villain-nya. Yaitu, POTONG KEPALANYA !!!! atau TEMBAK KEPALANYA. Pokoknya, semua villain selalu dibunuh dikepala, kalo cuma dibahu doang mah, masih bisa hidup... (Ups.. contain spoiler gak nih ??). Dan beberapa adegan masih terlihat sangat slasher sekali, maksudnya mau beda, tetapi gak dapet... Berkali-kali pembantaian juga masih dalam skala standar, yachhh, beda2 dikit lah sama Scream atau Black Christmas. Kalo dimasukin ke Amerika, yakin, semua pada ber-huuu ria. Tetapi, ya...tetap saja kekecawaan hanya pada slashergoers. Buat moviegoers sih masih bilang lumayaannnn

Tapi nontonnya......ENAK KANNN ?!!!

4 of 5

Lirik Cinta Matiku

Reff :

Duhai sayangku, dekap aku

Menginginkanmu sampai mati

Balutkan luka yang teramat dalam, oh kasih

Semua hangatnya, oh dirimu

Berikan aku arti hidup

*

Suguhkan segala raga dan jiwamu untukku

Dendangkanlah, tangis itu...sayang....

Manis rasa....Perih dirimu....

(setelah 2 x * ke bawah)

Suguhkan segala raga dan jiwamu untukku

Rasamu Untukku

Jantungmu Untukku....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "Rumah Dara review, Prolonged Sequence of Her"

Posting Komentar