Shutter, just like Another Horror Dump-list
Bulan madu ke Jepang bagi pengantin baru, Ben (Joshua Jackson) dan Jane Shaw(Rachael Taylor), ternyata membawa ketakutan dalam kehidupan rumah tangga mereka. Setelah pulang dari sebuah danau, secara tidak sengaja Jane menabrak seorang wanita tanpa diketahui nasib wanita itu karena ia raib begitu saja tanpa meninggalkan jejak apapun pada mobil mereka. Lalu saat Jane tengah menilik masalah tersebut, kejutan lain datang, foto bulan madu mereka yang selesai dicetak ternyata ikut "memotret" arwah gaib yang entah darimana.
Berusaha mengungkapkan misteri aneh tersebut, Jane mencari penyelesaian dengan tangannya sendiri saat Ben yang tengah sibuk dengan urusan pemotretannya, juga terkena teror dari hantu wanita.
Siapa sebenarnya wanita itu ? Dan apakah wanita itu mempunyai dendam pada salah satu dari mereka ?
RATING/Also My Rating
Rated PG-13 for terror, disturbing images, sexual content and language
REVIEW
Kalau anda pernah (atau bahkan sering hingga menjadi addicted) membuka Primbon.Com pastilah sering menjumpai foto-foto di film ini, dan mungkin anda akan terkejut mengetahui fakta bahwa seringkali foto hantu yang ditunjukkan adalah rekayasa alias bohong belaka, dan nampaknya, fakta yang diungkapkan film inilah satu-satunya poin positif dari film karya sutradara Masayuki Ochiai yang pernah menggarap film Infection yang mungkin hanya bisa anda temukan di rental VCD yang kelihatannya menyimpan film-film kuno.
Film ini mencoba menampilkan ulang adegan-adegan film Shutter asli karya duet Banjong Pisanthanakun dan Parkpoom Wongpoom yang saya bilang lebih mengerikan dari Ringu. Dan yeah, anda tahu bukan ? bagaimana remake horor Asia yang muncul disana, rata-rata dicaci-maki ? Dan film inipun tidak luput dari hinaan tersebut.
Boleh dibilang film rilisan 2008 ini sudah berusaha, namun tidak bisa, karena penampakan yang ditampilkan (yang sebenarnya sudah standar) kurang dieksplorasi, sehingga, kita tidak bakal merasa kaget dengan penampakan Megumi sepanjang film berlangsung, hanya akan merasa seperti menonton film Indonesia murahan, namun diberi sedikit taste mahal. Yah, karena Amerika sudah sering mengeksplorasi Jepang, jadi mereka tidak mau repot-repot meng-establish pemandangan Negara Matahari tersebut.
Ceritanya memang meniru film Thailand itu, tetapi, celakanya mereka bukannya mengadaptasi tapi malah meniru. Dan jadilah remake yang punya cerita lebih halus, kurang rumit (maksudnya kurang bisa memutar otak penonton), dan lebih Amerika. Plotnya lurus-lurus saja, dan endingnya juga bisa ditemukan di Wikipedia, halaman film aslinya, karena setelah saya baca, ternyata plot film buatan ulang ini nyaris tidak mengubah apapun !
Penggarapan non narasi bisa anda temukan di film horor asia lain yang tidak mengerikan, sang sutradara terlihat terlalu malas untuk mencoba menangkap emosi pengantin baru sehingga sampai pertengahan film berlangsung, masihlah dibenak saya mereka cuma pasangan biasa. Bukan chemistry yang kurang dari film ini, tetapi penggarapan untuk melihat drama dari pasangan ini sungguh kurang dan hanya menampilkan drama pasangan biasa. Musiknya juga tidak mengadaptasi FILM INDONESIA yang ketika hantunya muncul, langsung, suara keras nan seram merambat hingga volume mentok, pernah saya ketika menonton salah satu I-Horror di bioskop, saya sampai teriak kecil karena suaranya bikin pengang banget (saya dipojok loh, huhu) dan penonton lain mengira saya ketakutan.
de el el lainnya ? wahhh jangan ditanya, de el el itu sudah bisa anda temukan, baik secara keutuhan satu film sendiri maupun terpisah perbagian scene di masing-masing DVD film horor Asia atau Amerika atau film lain karena film ini sangat banyak sekali mencomot unsur horor dari Asia sehingga tampak menyebalkan dan membosankan. Akhirnya, tentu saja, tidak bahagia seperti film aslinya. Tapi saya tidak peduli lagi, karena para pemainnya sendiripun terlihat begitu terburu-buru sehingga di pelbagai adegan, sehingga tampak seperti dikejar deadline pekerjaan. Mungkin karena bujet yang minim sekali untuk ukuran film Hollywood.
Unsur cerita yang kurang diadaptasi dengan baik, pelbagai adegan yang mengandung film lain, entah apalagi yang bisa ditawarkan film ini selain fakta Primbon.
1,8 of 5 (minus 0,2 for stupidity)
Berusaha mengungkapkan misteri aneh tersebut, Jane mencari penyelesaian dengan tangannya sendiri saat Ben yang tengah sibuk dengan urusan pemotretannya, juga terkena teror dari hantu wanita.
Siapa sebenarnya wanita itu ? Dan apakah wanita itu mempunyai dendam pada salah satu dari mereka ?
RATING/Also My Rating
Rated PG-13 for terror, disturbing images, sexual content and language
REVIEW
Kalau anda pernah (atau bahkan sering hingga menjadi addicted) membuka Primbon.Com pastilah sering menjumpai foto-foto di film ini, dan mungkin anda akan terkejut mengetahui fakta bahwa seringkali foto hantu yang ditunjukkan adalah rekayasa alias bohong belaka, dan nampaknya, fakta yang diungkapkan film inilah satu-satunya poin positif dari film karya sutradara Masayuki Ochiai yang pernah menggarap film Infection yang mungkin hanya bisa anda temukan di rental VCD yang kelihatannya menyimpan film-film kuno.
Film ini mencoba menampilkan ulang adegan-adegan film Shutter asli karya duet Banjong Pisanthanakun dan Parkpoom Wongpoom yang saya bilang lebih mengerikan dari Ringu. Dan yeah, anda tahu bukan ? bagaimana remake horor Asia yang muncul disana, rata-rata dicaci-maki ? Dan film inipun tidak luput dari hinaan tersebut.
Boleh dibilang film rilisan 2008 ini sudah berusaha, namun tidak bisa, karena penampakan yang ditampilkan (yang sebenarnya sudah standar) kurang dieksplorasi, sehingga, kita tidak bakal merasa kaget dengan penampakan Megumi sepanjang film berlangsung, hanya akan merasa seperti menonton film Indonesia murahan, namun diberi sedikit taste mahal. Yah, karena Amerika sudah sering mengeksplorasi Jepang, jadi mereka tidak mau repot-repot meng-establish pemandangan Negara Matahari tersebut.
Ceritanya memang meniru film Thailand itu, tetapi, celakanya mereka bukannya mengadaptasi tapi malah meniru. Dan jadilah remake yang punya cerita lebih halus, kurang rumit (maksudnya kurang bisa memutar otak penonton), dan lebih Amerika. Plotnya lurus-lurus saja, dan endingnya juga bisa ditemukan di Wikipedia, halaman film aslinya, karena setelah saya baca, ternyata plot film buatan ulang ini nyaris tidak mengubah apapun !
Penggarapan non narasi bisa anda temukan di film horor asia lain yang tidak mengerikan, sang sutradara terlihat terlalu malas untuk mencoba menangkap emosi pengantin baru sehingga sampai pertengahan film berlangsung, masihlah dibenak saya mereka cuma pasangan biasa. Bukan chemistry yang kurang dari film ini, tetapi penggarapan untuk melihat drama dari pasangan ini sungguh kurang dan hanya menampilkan drama pasangan biasa. Musiknya juga tidak mengadaptasi FILM INDONESIA yang ketika hantunya muncul, langsung, suara keras nan seram merambat hingga volume mentok, pernah saya ketika menonton salah satu I-Horror di bioskop, saya sampai teriak kecil karena suaranya bikin pengang banget (saya dipojok loh, huhu) dan penonton lain mengira saya ketakutan.
de el el lainnya ? wahhh jangan ditanya, de el el itu sudah bisa anda temukan, baik secara keutuhan satu film sendiri maupun terpisah perbagian scene di masing-masing DVD film horor Asia atau Amerika atau film lain karena film ini sangat banyak sekali mencomot unsur horor dari Asia sehingga tampak menyebalkan dan membosankan. Akhirnya, tentu saja, tidak bahagia seperti film aslinya. Tapi saya tidak peduli lagi, karena para pemainnya sendiripun terlihat begitu terburu-buru sehingga di pelbagai adegan, sehingga tampak seperti dikejar deadline pekerjaan. Mungkin karena bujet yang minim sekali untuk ukuran film Hollywood.
Unsur cerita yang kurang diadaptasi dengan baik, pelbagai adegan yang mengandung film lain, entah apalagi yang bisa ditawarkan film ini selain fakta Primbon.
1,8 of 5 (minus 0,2 for stupidity)

0 Response to "Shutter, just like Another Horror Dump-list"
Posting Komentar