Orphan. Think Twice to Take Esther

SINOPSIS

There's something wrong with Esther. Sepasang suami istri, John dan Kate Coleman mempunyai hidup yang cukup harmonis bersama kedua anaknya, Daniel "Danny" Coleman si sulung dan Maxeline Coleman, gadis kecil yang nyaris tuli. Satu-satunya konflik adalah mengenai Kate yang setahun yang lalu tidak sengaja nyaris membiarkan Max tenggelam dan kenyataan bahwa Kate dulunya peminum berat. Semua hal itu disebabkan karena Kate mengalami keguguran anak ketiganya dan masih menyisakan mimpi buruk terhadapnya.

Esther menjadi pilihan pasangan Coleman untuk diadopsi, sikap Esther, gadis dari Rusia yang dewasa dan anggun membuat semua orang tertarik, sampai Kate mulai mencurigai Esther sebagai dalang dibalik semua masalah-masalah yang berada di sekitar keluarga itu. Dan perlahan, saat Kate mulai mengetahui sifat Esther sebenarnya, suaminya serta psikolognya mulai dikuasai sikap manis Esther yang menyembunyikan kelakuannya yang jahat.

RATING

Rated R for Disturbing Violent Content, Some Sexuality, and Language

FOR ME RATING

Rated R for Disturbing Scenes of Violence and Images, Some Adult Scenes and Language

REVIEW

Saya tidak peduli kenapa orang-orang bilang film ini jelek. Padahal film ini cuma sedikit jelek kok, kalau jelek mah urursan yang sirik tuh !! Setelah menurut saya gagal dalam membuat House of Wax, kembali Jaume Collet-Serra "menanggung" cerita yang original. Cerita yang ditampilkan, sangat orisinil dan akhirnya, benar-benar jaw dropping twist ! yang tidak pernah dikira sebelumnya.

Namun yang sangat disayangkan disini, sepertinya si pembuat film ini tidak mengeksplorasi cara teror baru. Beberapa kali, musik di film ini serta sinematografinya bergabung untuk menakuti penonton dengan cara-cara yang sering digunakan film-film remake J-Horror. Dan yang sangat disayangkan lagi (banyak banget ya "sayang"nya ?), walaupun twist nya tidak diketahui sebelum akhir film, tapi pada saat tengah film berlangsung, saya rasanya sudah tahu bagaimana akhir cerita ini. Ketika Esther mendorong si anak kecil di seluncuran, saya sudah bisa membayangkan konflik yang berlangsung. Beberapa itu adalah :
1. Menghilangnya kepercayaan orang dewasa lain terhadap Kate
2. Esther terus merayu dan menciptakan kekerasan lain
3. Esther pada akhirnya akan membongkar penyamarannya sendiri, tetapi identitas asli yang diketahui Kate bukan dari si Esther sendiri.
4. Konflik terjadi saat sisa keluarga dengan Esther berpisah dengan Kate.
5. Akan ada yang mati di keluarga itu (ini bener banget)

Dan entah kenapa, semua itu benar !! Saat saya benar-benar melihat premonition itu, saya sudah rada sedikit kecewa dengan film ini karena berarti satu-satunya kekuatan film ini setelah jelang setengah durasi adalah kejutan di akhir film. Pembawaan cerita dari tengah film ke akhir ? Anda pasti sudah pernah menonton adegan yang sama di ratusan film lain.

Musiknya Hans Zimmer lagi !! Kali ini dia juga memberikan hal yang sama dengan film-filmnya yang lain. Desain produksi yang ditawarkan sedikit mirip dengan The Good Son, yaitu keluarga itu punya rumah pohon, dan entah kenapa mereka memilih tinggal di kawasan terpencil yang belakangnya hutan, kalau musim dingin seperti itu sih menyenangkan, tapi kalau lagi hujan ? Pasti sangat mengerikan sekali, dan setting-nya seakan memang dibuat untuk musim itu.

Namun saya menutup mata dari kekurangan yang agak banyak, karena ceritanya (kejutannya mungkin) orisinil dan saya menghargai itu. Mungkin di jagat perfilman, twist ini hanya ditemukan di film ini.

3,65 of 5 (saya kurangi 0,35 karena saya sebel ama fitur DVDnya)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Frontier(s). Not for Kiddies, please

SINOPSIS

Terjadi keributan di Kota Paris karena terjadi kerusuhan selama pemilihan presiden. Keempat anak muda yang "kriminal kecil" yang sepertinya telah merampok sebagai pemanfaatan keributan ini mengungsi dari Paris ke pelosok Perancis. Para anak muda itu adalah : Alex, Tom, Farid, dan perempuan yang tengah hamil, Yasmine.

Setelah Tom dan Farid pergi duluan dengan membawa uang, Alex dan Yasmine juga pergi dari rumah sakit setelah adik Yasmine, Sami, mati tertembak. Tom dan Farid menginap sebentar di sebuah penginapan dan menerima perlakuan kekerasan yang sadis, Alex dan Yasmine yang masih selamat juga terperangkap dan terperangkap dalam sebuah rencana untuk membangun ulang Nazi setelah PD2. Dan anak Yasmine yang akan lahir, mengambil minat Le Von Geisler untuk menjadikannya pengikut Nazi, setelah itu, Yasmine diharuskan hamil terus-menerus untuk memberi "keturunan" pada pengikut Nazi.

RATING / Also My Rating

NC-17 for Extreme Sadistic Graphic Violence and Gore

REVIEW

Not for kiddies. Benar2. Remaja anehpun tidak diperbolehkan untuk menonton film ini, karena film ini benar-benar memutat konten violence yang tidak kira-kira. Perbandingannya begini, Bila di film berating R anda akan menemukan kepala yang terpotong, maka di film ini anda akan menemukan proses bagaimana kepala itu terpotong. Anda tidak akan menemukan unsur seksualitas yang parah, tetapi KEKERASAN yang terjadi sungguh ingin membuat mata anda menutup. Film ini, adalah film violence exploitation paling jujur yang pernah saya lihat. Anda tidak bisa mengelak dari adegan kekerasan, karena kamera yang biasanya berpindah jadi LS (Long Shot) tidak melakukan hal itu.

Ceritanya, sebenarnya kurang digali unsur Nazi-nya. Sebenarnya bila ditilik, misalkan bagaimana senior Nazi ini bisa selamat sampai tahun 2007 kurang diungkapkan, padahal bila diberitahu secara periodik akan tampak belas kasihan (mungkin), dengan begitu perasaannya jadi tidak menentu gitu deh...

Sinematografi-nya bener-benar jujur dengan cerita, tone gelap mengiringi ketakutan anda, apalagi ketika ending scene, (n mungkin film full kekerasan begini saya kasih spoil) pas tinggal Yasmine ama satu cwe lg, ya ampun, Yasmine yang lagi hamil, capek, mukanya berantakan, full darah lagee !! Duh, ngilu deh kalo ngerasain. Saya menonton lewat DVD collection bajakan dan gambarnya kurang jernih untuk ukuran DVD, entar belinya yang asli yaaaa... (Tapi saya ragu, berapa orang dewasa yang "siap mental" menghadapi film sadis ini).

Musiknya gak kampungan kayak 13 Cursed Stories yang nuansa rock selalu muncul terus2an. Disini masih sama formulanya, tetapi entah kenapa kok berasa cocok sich ? Apa karena saya punya ekspetasi yang lebih besar terhadap film ini ? Nggak tahu deh, saya mau nontonnya aja udah deg2an. Soalnya NC-17 sih, berarti kan adegan-adegannya eksplisit sekali.

Dengan formula khas horor sadis dan ceritanya yang agak menarik, film ini bisa membuat anda bergidik, dan mungkin saja bila anda menonton bersama kekasih anda, kalian akan saling bergelung saking takutnya. Dan lebih baik, jangan menonton di bioskop, tontonlah film ini dalam TV berukuran kecil, mungkin TV portabel, karena bila anda menonton film ini di layar yang bisa menutupi setengah tubuh anda, jangan ditanya anda akan super ngeri. Dan lagian, di bioskop tidak ada kok...jadi tenang saja.

Dan yang belum pernah menonton film seperti ini, mungkin akan ngeri, tetapi kalau sering menonton film NC-17 ato Banned, pasti bilang film ini biasa aja

3,91 of 5

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

13 Cursed Stories. Good to Watch it ?

SINOPSIS


(Sorry, no poster) Mengisahkan tentang seorang pembawa acara radio cerita horor Kumiko, yang ditemani oleh Pak Tsunoda, yang terlihat sebagai ahli spiritual sebagai pendampingnya selama on air untuk membacakan kisah-kisah yang dikirim oleh pendengar mereka.


Namun setelha cerita-cerita tergulir untuk dibacakan, mereka mulai menyadari bahwa arwah-arwah yang mereka bicarakan datang ke tempat mereka...

That 13 Cursed Stories is : (Tapi kenapa cuma 9 yang dibahas yach ?)

1. Undangan dari Dunia Sana

Seorang wanita karir yang mengaku bisa melihat arwah terganggu dengan arwah yang biasa ia lihat saat melewati jembatan penyeberangan, wanita itu memutuskan terlalu cepat tindakannya sehingga berakibat arwah itu menyadari kehadiran si wanita dan menerornya


2. Jailangkung

Berawal dari tiga orang siswi SMU yang iseng memainkan jelangkung, mendapat ramalan dari sang jailangkung bahwa salah satu dari mereka akan meninggal 10 hari lagi, dan hal itu benar-benar terjadi. Teror terjadi kepada si siswi penanya ramalan itu dari hantu temannya...

3. Boneka

Penungguan Masumi akan kelahiran bayinya di bulan kedelapan kehamilannya ini mengingatkannya pada masa lalunya kepada sebuah boneka. Malam itu, sang boneka dari masa lalu datang kepadanya untuk kembali menjadi "anaknya"...

4. Medium

Pengalaman berlibur di rumah nenek Misato yang menyeramkan, yang berhubungan dengan arwha-arwah yang mati penasaran di desa tersebut

5. Rumah Sakit

Seorang lelaki dengan kruk yang mendapatkan peristiwa mengerikan dalam hidupnya saat secara tidak sengaja ia menemui sesosok arwah yang mengunjungi pasien opname di rumah sakit tersebut. Dan rupanya setelah kamar itu, yang berikutnya dikunjungi si arwah adalah lelaki tersebut...

6. Roh Pelindung

Wanita itu telah mencampakkan pacarnya, sang pacar merasa hal itu sungguh kejam dan memutuskan untuk meneror mantannya. Namun yang ia tidak ketahui, si wanita telah berdoa agar almarhumah kakaknya datang ke dunia ini untuk melindunginya

7. Mystery Tour

KEtiga teman yang bertemu di Internet memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat angker untuk mengambil gambar dan dimasukkan ke dalam homepage mereka. Namun setelah salah satu dari mereka sakit, mereka buru-buru memotret tempat angker itu dan berhasil memotret penampakan. Tetapi wanita yang tertampak itu rupanya merencanakan sesuatu yang lain...

8. Arwah Gentayangan

Di sebuah kafe, Manabu bertemu dengan seorang pria bernama Takayama yang mempunyai pacar bernama Keiko. Keiko, beberapa waktu yang lalu mengalami kecelakaan yang membuat kepalanya terpisah dari tubuhnya. Keiko yang pengekang itu telah hilang dan Takayama setidaknya bisa bebas kembali, namun saat Keiko kembali...

9. Taksi Tengah Malam

Supir taksi itu distop oleh seorang wanita yang terlihat buru-buru. Setelah tanpa membayar dan kabur ke sebuah apartemen, wanita itu rupanya arwah yang sedang menunggui kekasihnya untuk ke alam baka

FOR ME RATING

Rated R for Violence/Terror also Some Disturbing Content

REVIEW

Idenya sebenarnya bagus dengan menggabungkan lebih dari 5 cerita horor yang dimaksudkan untuk orisinil. Namun apa daya, bila kucing telah melompat, ya pasti ia akan terjatuh. Cerita-ceritanya bisa kita dengarkan dari Anime Jepang Ghost at School yang pernah ditayangkan di TV7 itu, saya penggemar beratnya.

Pengangkatan cerita (eksekusi) film ini sangat tidak memuaskan ! Jujur, daripada film ini dibuat dengan style seperti ini, lebih baik sineas Hollywood kelas B saja yang menyutradarai, nyaris sama koq hasilnya...

Sinematografi, editing, musik, dan tata visual kelemahan terbesar di J-Horror ini. Sinematografi yang sering shaking camera dan terlalu tidak peduli dengan cahaya monoton itu (sering biru, kuning, ato merah, mungkin di sekuelnya mejikuhibiniu) itu benar-benar membuat bosan penonton, sangat kurang ajar sekali !! Film ini juga lemah dalam penggabungan sinematogafi dan visual efeknya, bagi yang (pembuat film) merasa saat bagian2 seram, maka secara rendahan orang-orang, si hantu, dan setting nya akan menjadi slow motion dan bergerak secara aneh, lambat, dan tidak dinamis. Dan tentu saja, hal itu membuat film yang sebenarnya bisa dibungkus dengan apik ini menjadi cenderung eksperimental (tapi level bawah) dan tak berkelas.

Siapa ini yang menciptakan musiknya ?! Saya benar-benar marah (bukan kecewa) terhadap si pembuat musik ini. Dengan harapan memberikan instrumen rock pada film akan membuat ngeri, nyatanya tidak tuh, malah saya lebih sering menguap gara-gara musiknya tidak mendukung sama sekali, bisa dihitung dengan jari tuh, musik horor klasik yang menjadi bumbu penyeram film ini. Tidak ada taste sama sekali... Lebih baik saya nonton Shutter-nya Masayuki Ochiai saja, sepertinya lebih seram dan lebih bagu (Faiz, I'll kill you because you borrowed that movie !).

Sisi film ini yang bagus berbeda dengan Rumah Dara, yang bisa dibaca di review saya di sini, yang mana film RD mengutamakan segi non-cerita sebagai jualan dan membuat naskah yang pasar banget. Film ini malah mengutamakan sisi cerita dan melupakan segi non-cerita, yang mana membuat bayangan film "wah, lumayan bagus" menjadi "nggak bagus, bodat". Ckckck, kukira filmografi Jepang itu bagus (apalagi menghadapi Departed) ternyata ada juga film tidak layak tonton seperti ini.

2 of 5


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Putih Abu-Abu dan Sepatu Kets


SINOPSIS

Tiga sahabat, Flory, Kemala, dan Icha. Usia mereka 14 tahunan, duduk di kelas 1 SMU. Tidak pernah ada rahasia diantara mereka. Mereka menjalin persahabatan dengan Dea, teman satu sekolah mereka yang nekad berusaha bunuh diri dengan. Dea depresi karena cowoknya Adit telah merekam dan menyebarkan adegan mesra mereka ke teman-teman sekolah Dea melalui internet dan telefon genggam

Persoalan keluarga Flory adalah yang paling rumit dalam hidupnya, apalagi saat orang tuanya bercerai karena ibunya ternyata seorang lesbian

Kemala, selalu ingin tahu hal-hal yang berbau dewasa, dinatara teman-temannya, dia adalah orang pertama yang mendapat menstruasi dan pacaran. Semua yang dia alami selalu diceritakan pada teman-temannya. Berbeda dengan Icha yang merasa belum sempurna karena belum menstruasi

Persoalan hidup dan mencari cinta mengajarkan mereka banyak hal. Satu persatu masalah mereka selesaikan dengan cara mereka. Dan mereka sangat menjaga yang namanya harga diri. Mereka tidak mau terjerumus pada hal yang negatif walaupun masalah yang mereka hadapi tidaklah mudah…

FOR ME RATING

Rated PG-13 for Mature Content and Some Violent Images

REVIEW

Memang aneh, sepertinya setelah sering excited dengan film-film Indonesia ataupun luar negeri yang bagus, saya memutuskan untuk merental film seperti ini. Film Indonesia buatan sutradara muka banyak, Nayato Fio Nuala, rupanya masih eksis di jagat perfilman, saya sempat ragu ketika melihat kualitas Hantu Jamu Gendong buatannya itu.

Berbeda dengan film-film sebelumnya, Nayato yang merekrut Viva Westi (sutradara Suster N) sebagai penulis naskah tampak mencoba membuat tone yang lebih ceria dan menyenangkan. Komedi yang dilancarkan oleh para remaja ini tampak sangat real sekali. Namun sayang sekali, hal tersebut tidak diimbangi dengan komplementer (pelengkap) yang bagus.

Pemain, yang mana cuma menjual muka-muka saja (Terutama Arumi Bachsin itu,) tampak tidak terlalu peduli, sehingga yang menurut saya paling mencolok dalam kisah ini adalah justru Rana Audi Marissa yang berperan sebagai Icha yang komikal. Jujur saja, dari sekian banyak taburan jokes, baik yang segar maupun basi, tokoh Icha 60 % membawa kebahagiaan bagi saya, namun justru karena ini film teenage drama jadilah ia hanya dianggap sebagai karakter tempelan. Begitupun dengan tokoh-tokoh yang dicantumkan di poster, huh ! Sayapun ilfeel dengan akting yang pas-pasan itu.

Sinematografi, sepertinya Nayato sudah terlalu capek untuk sering mengubah-ngubah angle yang biasanya ia lakukan, kini ia cenderung memilih angle yang miring dan diiringi musik yang menggebu disetiap perpindahannya. Tapi, kok pusing ya ? Musiknya juga masih musik komedi TV yang biasa anda dengar, sisanya ? Soundtrack yang dibawakan dari artis yang saya tidak peduli namanya, penempatan liriknya tidak nyambung sama sekali.

Film ini, yang sebenarnya mengajarkan kita mengenai mature content yang terjadi di masyarakat remaja sebenarnya cukup mengena, apalagi dalam berbagai pembicaraannya, kalau nonton bareng-bareng, dijamin mesem-mesem sendiri... Namun penggalian isu-isu sensualitas semacam ini dirasa terlalu nanggung, tidak terlalu crude seperti American Pie. Jadilah, film ini sebagai film dimana anda mau-tidak-mau menontonnya. Pada sedikit sekali bagian anda akan merasa film ini bagus sekali, tetapi sayangnya di bagian yang sedikit itulah, semua pengulangan angle, scene, music, editing dan lainnya sangat made from others banget.

Putih Abu-Abu dan Sepatu Kets, sudah tidak orisinil, tidak sinkron lagi dengan judulnya !

1,5 of 5

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Angles & Demons

SINOPSIS

Ahli simbol dari Harvard yang sudah kondang, Robert Langdon (Tom Hanks), diperintahkan untuk menganalisa luka bakar berbentuk simbol misterius yang ditemukan di dada Leonardo Vetra, seorang ahli fisika. Dengan bantuan putri angkat Vetra yang bernama Vittoria (Ayelet Zurer, "Vantage Point"), Langdon menemukan bukti-bukti bangkitnya kembali sebuah persekutuan dari jaman kuno bernama The Illuminati, sebuah organisasi bawah tanah yang penuh misteri dan sangat berkuasa. Bersama Vittoria, Langdon mengalami petualangan penuh aksi memecahkan teka-teki, menyusuri makam bawah tanah, bahkan ke gua-gua tersembunyi di perut bumi, menelusuri jejak simbol berusia 400 tahun, satu-satunya harapan Vatikan untuk bisa bertahan.


RATING

Rated PG-13 for sequences of violence, disturbing images and thematic material

FOR ME RATING (To DVD Extended Edition)

Rated R for Some Strong Graphic Violence including Disturbing Images and Material

REVIEW

Jujur saja, film ini lebih menyenangkan daripada pendahulunya, kelihatannya, kali ini Ron Howard lebih senang karena boleh mengeksploitasi novel ini secara bebas (mungkin karena faktor Da Vinci Code yang dulu yang terlalu maksa). Secara garis besar, film ini bisa menjadi pilihan menonton anda bersama TEMAN SEJAWAT anda. Bukan bersama keluarga tentunya, apalagi mengingat bahwa edisi DVD-nya memperlihatkan adegan kekerasan yang terlalu banyak dan mengerikan.

Cerita yang ditampilkan sebenarnya tidak membuat terlalu pusing, karena intrik dan konflik pada novel yang dianggap hanya memperpanjang jalan cerita dipotong. Bila anda telah membaca novelnya dan menyukai ceritanya, seperti halnya saya, film ini menjadi memuakkan dan tidak enak untuk ditonton jadinya. Pastilah saat kita menonton sebuah film dari adaptasi sebuah novel, kita sudah men-judge kelanjutan adegan tersebut, tentunya tebakan anda bisa menjadi sama persis, bisa juga beda jauh, karena adaptasi film bisa bebas bisa juga akurat. Dan anda akan menjadi kesal sekali apabila anda sudah melontarkan kalimat seperti ini :

"Kok beda sih ? Gak kayak di buku ?"
"Bukannya si anu yang begitu ? Kok malah si anu ? Di buku gak kayak gitu ah !"
"Akhirnya kenapa beda sih ? Kok nggak kayak di buku ????"

Dan berjuta tought comment lain yang bisa anda bilang ketika menonton sebuah film adaptasi. Tak pelak, film ini justru dengan kurang ajar mengubah praduga "novel" saya. Bagaimana tidak, endingnya saja beda, jalan ceritanya menjadi lebih gampang, jadilah Robert Langdon versi Ben Gates (National Treasure) yang kerjaanya bukannya menolong, malah mondar-mandir ke satu tempat dengan gaya bicara guru-sejarah-darmawisata yang seakan ingin memberitahukan kita, dengan kalimat seperti ini,
"Ya anak-anak, jadi ini loh bangunan itu, ohh, tentu saja ada mayatnya, tenang saja..."
atau
"Jadi pada tahun blabla ada bangunan blabla yang didirikan blabla"

Gaya bicara itu membuat Robert Langdon saya hilang. Kembalikan Langdon saya !! hsk hsk... Intinya, bila anda belum pernah membaca bukunya, lebih baik menonton dulu, karena alur cerita yang ditampilkan si novel lebih rumit dibandingkan filmnya. Tapi kalau filmnya terakhir, siap-siap saja anda akan kecewa.

Namun dari segi sinematografi dan editing, sangat normal sekali. Sangat hollywood sekali dan anda tidak akan menemukan kedua sisi itu dibuat secara aneh. Anda yang sudah biasa menonton film blockbuster Amrik pasti sudah akrab dengan gambar-gambar disini. Musiknya juga, Hans Zimmer, my beloved music scorer itu melakukannya lagi disini, nuansa tegangnya dibangun secara perlahan dan walaupun bisa dibilang terlalu standar, anda tidak akan menemukan nuansa rock saat adegan-adegan di gereja. Nggak kayak Putih Abu-Abu dan Sepatu Kets yang aneh.

Alur cerita yang terlalu diberi bumbu oleh penulis skrip memang memuakkan, tetapi bila dipandang dari segi pengamat film, anda bisa menatakan film ini standar sekali karena efeknya pun standar. Anda akan terhibur, tetapi cuma itu yang akan didapat

3 of 5



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Rumah Dara review, Prolonged Sequence of Her


SINOPSIS

Adjie dan Astrid, pasangan suami istri yang akan diberkati kehadiran anak pertama, pergi bersama 3 temannya ke Bandung pada suatu malam. Perjalanan ini merupakan usaha terakhir Adjie untuk berpamitan dengan adiknya, Ladya. Kedua kakak-beradik ini sudah tak akur lagi, dan besok Adjie harus berangkat ke Australia untuk memulai hidup baru

Pertemuan mereka tidak berjalan mulus pada mulanya. Ladya yang seorang pemberontak menyalahkan Adjie atas tragedi di masa lalu. Tetapi atas bujukan Astrid, Ladya mengalah dan dengan sungkan ikut mengantar ke bandara

Perjalanan terhenti ketika seorang perempuan cantik menghampiri mereka dengan cemas dan lingkung. “Nama saya Maya. Saya baru saja dirampok,” ujarnya. Berniat menolong, mereka pun mengantar perempuan ini pulang

Sesampainya di rumah Maya, mereka diperkenalkan kepada seorang perempuan anggun dan misterius bernama Dara. Disinilah niat tulus dan maksud baik menjadi awal bencana

Siapakah Dara sebenarnya? Apa yang diinginkan oleh sosok-sosok lain penghuni rumah tersebut? Adakah harapan untuk selamat bila keluar dari rumah itu saja tampak mustahil?

Malam ini, semuanya tak akan baik-baik saja...


FOR ME RATING

Rated R for Strong Horror Violence Throughout, Terror, Gore, and Some Mature Content also Some Language.


REVIEW

Ekspetasi anda untuk film ini bisa dibilang cukup berlebihan, jadi boleh saja anda simpan uang Rp 20.000 anda itu untuk membeli paket makanan enak di sebuah rumah makan siap saji dibawah...

Kok begitu ? Memangnya film itu sedemikian jeleknya ? Tidak, anda akan menikmatinya. Anda akan menikmatinya sebagai seorang addicted moviegoers, tapi bagi saya yang addicted slashergoers, jujur saja, saya pernah buat plot semacam ini....

Film berdurasi 95 menit ini memang menarik, walaupun plot awal yang disajikan kepada penonton sangat umum, tapi perlahan akan menemukan sebuah perbedaan antara film ini dengan film2 bergenre sama yang bisa anda lihat secara online streaming di banyak situs. Apabila film slasher luar cenderung mengumbar konten dewasa sebagai foreplay, film ini lebih memberikan characters introducing sebagai foreplay. Dan tidak bisa dipungkiri, bahkan oleh saya sendiri, bahwa foreplay film ini sangat kurang, apalagi saat dari tempat kerja Ladya ke adegan munculnya Maya. Perkenalan karakter disajikan justru secara ensamble, tenang saja buat orang yang rada budeg sampai-sampai tidak hapal nama karakternya, nama karakternya akan diulang secara periodik berkali-kali.

Lalu, kita dikenalkan kepada lead actrees film ini, Dara ! Dara yang mempunyai 3 anak ini diperankan oleh Shareefa Daanish dengan taste berbeda dengan apa yang disajikan The Mo Brothers di film pendeknya. Apabila di film pendeknya digambarkan Dara sebagai sosok single yang mengenali citizen taste yang tinggi, maka disini anda akan melihat Dara dengan versi yang lebih old. Anda akan mendengar dialog yang paling saya ingat, yang lebih membuat saya lebih terkesan dengan Dara. Bukan....Bukan dialog cheesy "ENAK KANNN ?!", tetapi justru dialog yang muncul saat Dara memperkenalkan dirinya dan mengajak makan keenam sahabat itu. "Tidak Apa. Nanti dibilang saya jelek ramah." What ?! Dalam film rilisan 2010 ini mendengar kalimat JELEK RAMAH ! Benar-benar dialog yang paling saya ingat, kalimat itu benar-benar menggantikan posisi kalimat ENAK KAN di benak saya. Kalimat itu terus saja terngiang-ngiang bahkan saat Dara mengatakan kata Enak Kan tersebut.

Kemudian pada aktingnya. Heran rasanya, mengetahui Shareefa Daanish yang komikal bisa membuat facing seperti itu. Sorot matanya yang padahal cuma sekali di CU oleh kamera, (saat si anu mati) dan pada saat itu mimiknya benar-benar menyeramkan, apa mungkin karena make up yang bagus atau pengarahannya , saya tidak tahu, yang jelas Dara memang karakter yang diciptakan oleh kreator. Bukan jiplakan dari film-film lain, yang seingat saya cuma ada dalam film-film hollywood. Lalu akting Imelda Therinne yang perubahan karakternya perlahan-lahan berubah seiring tensi film. Di awal film, walaupun anda sudah tahu kalau dia jahat, tetapi pembawaanya tidak mencerminkan sosok evil sejak awal. Apalagi, saat Maya melukai Alam, lihat deh sosok matanya itu ! Sosok dari para hero kita banyak yang aktingnya benar-benar tidak ngeh sama slasher rules, tetapi mereka sudah dalam performa yang meyakinkan, terutama pada Sigi Wimala sebagai Astrid yang harus kehilangan bayinya (bukan spoiler loh...). Yang paling kurang aktingnya cuma Ruli Lubis sebagai Arman (please ya, tambahin beberapa facing yang ngeri kayak Dara deh).

Sinematografi memang sangat simetris dengan editing, dan dalam beberapa adegan di film ini ada yang mengganggu, seperti saat perkelahian Alam dan Maya, perkelahian yang pertamanya cukup tegang jadi funny karena selama pertarungan tersebut, beberapa detik dipangkas dari perkelahian sehingga tampak seperti sitkom. Mungkin maunya lucu ? Namun secara keseluruhan, angle yang diambil oleh Roni Arnold lebih menyenangkan selangkah daripada angle film slasher biasa. Walaupun sering mengambil sudut kamera biasa, saat-saat akhir dimana Ladya berjalan melewati genangan darah cukup membuat praised, karena scene itu dan adegan ending cukup membuat tegang. Musik dan desainnya sudah cukup bagus, salut buat lagu Cinta Matiku !!! Lagu itu bener-bener kocak akhirnya, yang mana lirik tersebut diedit dalam website-nya. Nanti ya, liriknya ! Make up nya sudah bagus sich, serasa Nicotero & Berger gitu deh, cuma gara-gara LSF, gak sempet liat deh kepala Alam yang kepotong. Nice try, dude...

Akting cukup mantap, musik, sinematografi, editing, desain sudah oks, terus yang bikin jelek apa donggg ????? Yang bikin jelek itu plotnya, PLOT. Entah kenapa, para pembuat slasher seringkali tidak memberikan pengetahuan kepada karakternya apabila harus membunuh villain-nya. Yaitu, POTONG KEPALANYA !!!! atau TEMBAK KEPALANYA. Pokoknya, semua villain selalu dibunuh dikepala, kalo cuma dibahu doang mah, masih bisa hidup... (Ups.. contain spoiler gak nih ??). Dan beberapa adegan masih terlihat sangat slasher sekali, maksudnya mau beda, tetapi gak dapet... Berkali-kali pembantaian juga masih dalam skala standar, yachhh, beda2 dikit lah sama Scream atau Black Christmas. Kalo dimasukin ke Amerika, yakin, semua pada ber-huuu ria. Tetapi, ya...tetap saja kekecawaan hanya pada slashergoers. Buat moviegoers sih masih bilang lumayaannnn

Tapi nontonnya......ENAK KANNN ?!!!

4 of 5

Lirik Cinta Matiku

Reff :

Duhai sayangku, dekap aku

Menginginkanmu sampai mati

Balutkan luka yang teramat dalam, oh kasih

Semua hangatnya, oh dirimu

Berikan aku arti hidup

*

Suguhkan segala raga dan jiwamu untukku

Dendangkanlah, tangis itu...sayang....

Manis rasa....Perih dirimu....

(setelah 2 x * ke bawah)

Suguhkan segala raga dan jiwamu untukku

Rasamu Untukku

Jantungmu Untukku....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

The Final Destination, Kind of Slasher ?

SINOPSIS


Hari itu sebenarnya Nick O'Bannon (Bobby Campo) berencana untuk bersenang-senang dengan menonton balap mobil bersama teman-temannya. Sayangnya tak semua rencana manusia berjalan seperti yang diinginkan. Anehnya, Nick justru mendapat peringatan akan kejadian yang akan segera menimpanya.

Saat tertidur, Nick mendapat mimpi buruk yang baginya terlihat sangat nyata. Ia melihat kecelakaan beruntun di jalur balap yang mengakibatkan pecahan dari mobil ini melayang ke arah penonton. Dalam mimpi Nick, pecahan ini mengenai dirinya beserta teman-temannya dan mengakibatkan kematian mereka semua. Saat terbangun, Nick panik dan mengajak semua teman-temannya pergi dari sana secepatnya.

Ternyata kejadian dalam mimpi Nick benar-benar terjadi persis seperti dalam mimpi Nick. Awalnya mereka yakin bahwa mereka selamat dari malapetaka yang baru saja terjadi namun yang mereka tidak tahu adalah bahwa takdir telah ditulis dan kematian akan tetap datang meski di hari yang lain. Mampukah Nick, Lori (Shantel VanSanten), Janet (Haley Webb), Hunt (Nick Zano) menghindar dari takdir kematian yang telah ditetapkan ini?

RATING

Rated R for strong violent/gruesome accidents, language and a scene of sexuality.


REVIEW

Well, semua film yang saya tonton, dalam bioskop, adalah film yang mana saya sangat menaruh pikiran saya ke sebuah titik dimana pastilah film yang saya tonton ini bagus. Dan konsep tersebut membuat saya tidak pernah kecewa dalam menonton sebuah film. Tetapi, saat sebuah film terlalu buruk, mampukah pikiran mendaurnya agar menjadi bagus ? Itulah yang saya maksud dengan mind-control, konsep itu TIDAK BERGUNA untuk film ini.

Film buatan mantan stunt David.R.Ellis ini adalah film terburuk dari seluruh seri Final Destination, yang mana bila ditelisik, hanya film miliknya saja yang mengandung unsur "benda gerak sendiri", sesungguhnya hal itu sangat menyebalkan, apalagi, seluruh corny deaths itu rata-rata tidak murni accident. Tapi kenapa ya, alasan film ini dilabeli R adalah karena Strong Violence/Gruesome Accidents ??????

Kekerasan yang diekspos sebenarnya merupakan sebuah langkah killing baru di dunia horor, apalagi kalau boleh jujur adegan kematiannya fun dan sadis, tetapi tidak membuat kita menutup mata. Kalau yang terakhir, mungkin bagi penggemar gore movie akan menganggap kekerasan di film ini G-rated, alias TIDAK MENGERIKAN. Rilis bulan Agustus, membuat film yang naskahnya ditulis Eric Bress menjadi tidak mementingkan kualitas, yang dipikirkan hanyalah...you know what I'll speak. Because, we need it too.

Akting yang mengecewakan dari mantan casting, model, atau Seri TV menjadi salah satu kelemahan film berbujet Lima puluh juta dolar. Selain itu, gabungan spesial efek yang buruk juga menjadi kelemahannya. Satu-satunya kelebihan film ini adalah karena film ini masih mempunyai satisfied death rating yang seru untuk ditonton, memang cocok sebagai film untuk ditonton rame-rame. Mengingat film ini dirilis pada musim panas lalu, berarti cukup berbeda dengan kebiasaan rilis film ini sebelumnya (biasanya di musim gugur atau musim semi).

Kalau sudah menonton sekali, tidak seperti FD lain, anda akan bosan dan tidak akan mengingat film ini, kecuali dari adegan2 yang berdarah itu,

2 of 5

Rest in Pieces, Ellis !

NEW LINE CINEMA/ Directed by : David R Elllis/Written by : Eric Bress/Starring : Bobby Campo, Nick Zano, Shantel VanSanten, Halley Webb, Mylketi Williamson.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS