Putih Abu-Abu dan Sepatu Kets
SINOPSIS
Tiga sahabat, Flory, Kemala, dan Icha. Usia mereka 14 tahunan, duduk di kelas 1 SMU. Tidak pernah ada rahasia diantara mereka. Mereka menjalin persahabatan dengan Dea, teman satu sekolah mereka yang nekad berusaha bunuh diri dengan. Dea depresi karena cowoknya Adit telah merekam dan menyebarkan adegan mesra mereka ke teman-teman sekolah Dea melalui internet dan telefon genggam
Persoalan keluarga Flory adalah yang paling rumit dalam hidupnya, apalagi saat orang tuanya bercerai karena ibunya ternyata seorang lesbian
Kemala, selalu ingin tahu hal-hal yang berbau dewasa, dinatara teman-temannya, dia adalah orang pertama yang mendapat menstruasi dan pacaran. Semua yang dia alami selalu diceritakan pada teman-temannya. Berbeda dengan Icha yang merasa belum sempurna karena belum menstruasi
Persoalan hidup dan mencari cinta mengajarkan mereka banyak hal. Satu persatu masalah mereka selesaikan dengan cara mereka. Dan mereka sangat menjaga yang namanya harga diri. Mereka tidak mau terjerumus pada hal yang negatif walaupun masalah yang mereka hadapi tidaklah mudah…
FOR ME RATING
Rated PG-13 for Mature Content and Some Violent Images
REVIEW
Memang aneh, sepertinya setelah sering excited dengan film-film Indonesia ataupun luar negeri yang bagus, saya memutuskan untuk merental film seperti ini. Film Indonesia buatan sutradara muka banyak, Nayato Fio Nuala, rupanya masih eksis di jagat perfilman, saya sempat ragu ketika melihat kualitas Hantu Jamu Gendong buatannya itu.
Berbeda dengan film-film sebelumnya, Nayato yang merekrut Viva Westi (sutradara Suster N) sebagai penulis naskah tampak mencoba membuat tone yang lebih ceria dan menyenangkan. Komedi yang dilancarkan oleh para remaja ini tampak sangat real sekali. Namun sayang sekali, hal tersebut tidak diimbangi dengan komplementer (pelengkap) yang bagus.
Pemain, yang mana cuma menjual muka-muka saja (Terutama Arumi Bachsin itu,) tampak tidak terlalu peduli, sehingga yang menurut saya paling mencolok dalam kisah ini adalah justru Rana Audi Marissa yang berperan sebagai Icha yang komikal. Jujur saja, dari sekian banyak taburan jokes, baik yang segar maupun basi, tokoh Icha 60 % membawa kebahagiaan bagi saya, namun justru karena ini film teenage drama jadilah ia hanya dianggap sebagai karakter tempelan. Begitupun dengan tokoh-tokoh yang dicantumkan di poster, huh ! Sayapun ilfeel dengan akting yang pas-pasan itu.
Sinematografi, sepertinya Nayato sudah terlalu capek untuk sering mengubah-ngubah angle yang biasanya ia lakukan, kini ia cenderung memilih angle yang miring dan diiringi musik yang menggebu disetiap perpindahannya. Tapi, kok pusing ya ? Musiknya juga masih musik komedi TV yang biasa anda dengar, sisanya ? Soundtrack yang dibawakan dari artis yang saya tidak peduli namanya, penempatan liriknya tidak nyambung sama sekali.
Film ini, yang sebenarnya mengajarkan kita mengenai mature content yang terjadi di masyarakat remaja sebenarnya cukup mengena, apalagi dalam berbagai pembicaraannya, kalau nonton bareng-bareng, dijamin mesem-mesem sendiri... Namun penggalian isu-isu sensualitas semacam ini dirasa terlalu nanggung, tidak terlalu crude seperti American Pie. Jadilah, film ini sebagai film dimana anda mau-tidak-mau menontonnya. Pada sedikit sekali bagian anda akan merasa film ini bagus sekali, tetapi sayangnya di bagian yang sedikit itulah, semua pengulangan angle, scene, music, editing dan lainnya sangat made from others banget.
Putih Abu-Abu dan Sepatu Kets, sudah tidak orisinil, tidak sinkron lagi dengan judulnya !
1,5 of 5
0 Response to "Putih Abu-Abu dan Sepatu Kets"
Posting Komentar