Orphan. Think Twice to Take Esther
There's something wrong with Esther. Sepasang suami istri, John dan Kate Coleman mempunyai hidup yang cukup harmonis bersama kedua anaknya, Daniel "Danny" Coleman si sulung dan Maxeline Coleman, gadis kecil yang nyaris tuli. Satu-satunya konflik adalah mengenai Kate yang setahun yang lalu tidak sengaja nyaris membiarkan Max tenggelam dan kenyataan bahwa Kate dulunya peminum berat. Semua hal itu disebabkan karena Kate mengalami keguguran anak ketiganya dan masih menyisakan mimpi buruk terhadapnya.
Esther menjadi pilihan pasangan Coleman untuk diadopsi, sikap Esther, gadis dari Rusia yang dewasa dan anggun membuat semua orang tertarik, sampai Kate mulai mencurigai Esther sebagai dalang dibalik semua masalah-masalah yang berada di sekitar keluarga itu. Dan perlahan, saat Kate mulai mengetahui sifat Esther sebenarnya, suaminya serta psikolognya mulai dikuasai sikap manis Esther yang menyembunyikan kelakuannya yang jahat.
RATING
Rated R for Disturbing Violent Content, Some Sexuality, and Language
FOR ME RATING
Rated R for Disturbing Scenes of Violence and Images, Some Adult Scenes and Language
REVIEW
Saya tidak peduli kenapa orang-orang bilang film ini jelek. Padahal film ini cuma sedikit jelek kok, kalau jelek mah urursan yang sirik tuh !! Setelah menurut saya gagal dalam membuat House of Wax, kembali Jaume Collet-Serra "menanggung" cerita yang original. Cerita yang ditampilkan, sangat orisinil dan akhirnya, benar-benar jaw dropping twist ! yang tidak pernah dikira sebelumnya.
Namun yang sangat disayangkan disini, sepertinya si pembuat film ini tidak mengeksplorasi cara teror baru. Beberapa kali, musik di film ini serta sinematografinya bergabung untuk menakuti penonton dengan cara-cara yang sering digunakan film-film remake J-Horror. Dan yang sangat disayangkan lagi (banyak banget ya "sayang"nya ?), walaupun twist nya tidak diketahui sebelum akhir film, tapi pada saat tengah film berlangsung, saya rasanya sudah tahu bagaimana akhir cerita ini. Ketika Esther mendorong si anak kecil di seluncuran, saya sudah bisa membayangkan konflik yang berlangsung. Beberapa itu adalah :
1. Menghilangnya kepercayaan orang dewasa lain terhadap Kate
2. Esther terus merayu dan menciptakan kekerasan lain
3. Esther pada akhirnya akan membongkar penyamarannya sendiri, tetapi identitas asli yang diketahui Kate bukan dari si Esther sendiri.
4. Konflik terjadi saat sisa keluarga dengan Esther berpisah dengan Kate.
5. Akan ada yang mati di keluarga itu (ini bener banget)
Dan entah kenapa, semua itu benar !! Saat saya benar-benar melihat premonition itu, saya sudah rada sedikit kecewa dengan film ini karena berarti satu-satunya kekuatan film ini setelah jelang setengah durasi adalah kejutan di akhir film. Pembawaan cerita dari tengah film ke akhir ? Anda pasti sudah pernah menonton adegan yang sama di ratusan film lain.
Musiknya Hans Zimmer lagi !! Kali ini dia juga memberikan hal yang sama dengan film-filmnya yang lain. Desain produksi yang ditawarkan sedikit mirip dengan The Good Son, yaitu keluarga itu punya rumah pohon, dan entah kenapa mereka memilih tinggal di kawasan terpencil yang belakangnya hutan, kalau musim dingin seperti itu sih menyenangkan, tapi kalau lagi hujan ? Pasti sangat mengerikan sekali, dan setting-nya seakan memang dibuat untuk musim itu.
Namun saya menutup mata dari kekurangan yang agak banyak, karena ceritanya (kejutannya mungkin) orisinil dan saya menghargai itu. Mungkin di jagat perfilman, twist ini hanya ditemukan di film ini.
3,65 of 5 (saya kurangi 0,35 karena saya sebel ama fitur DVDnya)
Esther menjadi pilihan pasangan Coleman untuk diadopsi, sikap Esther, gadis dari Rusia yang dewasa dan anggun membuat semua orang tertarik, sampai Kate mulai mencurigai Esther sebagai dalang dibalik semua masalah-masalah yang berada di sekitar keluarga itu. Dan perlahan, saat Kate mulai mengetahui sifat Esther sebenarnya, suaminya serta psikolognya mulai dikuasai sikap manis Esther yang menyembunyikan kelakuannya yang jahat.
RATING
Rated R for Disturbing Violent Content, Some Sexuality, and Language
FOR ME RATING
Rated R for Disturbing Scenes of Violence and Images, Some Adult Scenes and Language
REVIEW
Saya tidak peduli kenapa orang-orang bilang film ini jelek. Padahal film ini cuma sedikit jelek kok, kalau jelek mah urursan yang sirik tuh !! Setelah menurut saya gagal dalam membuat House of Wax, kembali Jaume Collet-Serra "menanggung" cerita yang original. Cerita yang ditampilkan, sangat orisinil dan akhirnya, benar-benar jaw dropping twist ! yang tidak pernah dikira sebelumnya.
Namun yang sangat disayangkan disini, sepertinya si pembuat film ini tidak mengeksplorasi cara teror baru. Beberapa kali, musik di film ini serta sinematografinya bergabung untuk menakuti penonton dengan cara-cara yang sering digunakan film-film remake J-Horror. Dan yang sangat disayangkan lagi (banyak banget ya "sayang"nya ?), walaupun twist nya tidak diketahui sebelum akhir film, tapi pada saat tengah film berlangsung, saya rasanya sudah tahu bagaimana akhir cerita ini. Ketika Esther mendorong si anak kecil di seluncuran, saya sudah bisa membayangkan konflik yang berlangsung. Beberapa itu adalah :
1. Menghilangnya kepercayaan orang dewasa lain terhadap Kate
2. Esther terus merayu dan menciptakan kekerasan lain
3. Esther pada akhirnya akan membongkar penyamarannya sendiri, tetapi identitas asli yang diketahui Kate bukan dari si Esther sendiri.
4. Konflik terjadi saat sisa keluarga dengan Esther berpisah dengan Kate.
5. Akan ada yang mati di keluarga itu (ini bener banget)
Dan entah kenapa, semua itu benar !! Saat saya benar-benar melihat premonition itu, saya sudah rada sedikit kecewa dengan film ini karena berarti satu-satunya kekuatan film ini setelah jelang setengah durasi adalah kejutan di akhir film. Pembawaan cerita dari tengah film ke akhir ? Anda pasti sudah pernah menonton adegan yang sama di ratusan film lain.
Musiknya Hans Zimmer lagi !! Kali ini dia juga memberikan hal yang sama dengan film-filmnya yang lain. Desain produksi yang ditawarkan sedikit mirip dengan The Good Son, yaitu keluarga itu punya rumah pohon, dan entah kenapa mereka memilih tinggal di kawasan terpencil yang belakangnya hutan, kalau musim dingin seperti itu sih menyenangkan, tapi kalau lagi hujan ? Pasti sangat mengerikan sekali, dan setting-nya seakan memang dibuat untuk musim itu.
Namun saya menutup mata dari kekurangan yang agak banyak, karena ceritanya (kejutannya mungkin) orisinil dan saya menghargai itu. Mungkin di jagat perfilman, twist ini hanya ditemukan di film ini.
3,65 of 5 (saya kurangi 0,35 karena saya sebel ama fitur DVDnya)
0 Response to "Orphan. Think Twice to Take Esther"
Posting Komentar